Model Ekonomi Biru Pembangunan Maritim

Posted by Benny Osta Nababan Minggu, 23 Agustus 2020 0 komentar

Oleh: Prof. Dr. Ir. Hasan Sitorus, MS

Guru Besar Ilmu Perikanan dan Kelautan di Universitas Nommensen Medan

Visi Presiden Joko Widodo untuk menja­di­kan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia merupakan momentum yang tepat untuk mengembalikan kejayaan Indonesia sebagai negara maritim. Dalam mewujudkan poros maritim tersebut, diper­lukan model pembangunan maritim yang mampu menga­komodasi kepentingan ekono­mi dan ekologi untuk menjamin pemanfaatan yang berkelan­jutan, efisien dan bersih lingkungan. Salah satu model pembangunan maritim yang layak diterapkan di Indonesia adalah model pembangunan ekonomi biru (blue economy).
Model pembangunan ekonomi biru dalam pemanfaatan sumberdaya alam diperkenal­kan oleh Gunter Pauli tahun 2010 yang mam­pu membangkitkan 100 inovasi baru dan lapangan kerja 100 juta orang untuk menja­wab tantangan sistem ekonomi dunia yang cenderung eksploitatif dan secara nyata telah merusak lingkungan. Prinsip ekonomi biru pada dasarnya memiliki 3 esensi, yakni : 1) Belajar dari Alam (Learning from Nature) yang bekerja sesuai dengan apa yang dise­diakan alam dengan efisien, 2) Logika Ekosis­tem (The Logic of Ecosystems) yang mengikuti cara kerja ekosistem seperti air mengalir dari gunung membawa nutrien dan energi untuk memenuhi kebutuhan dasar kehidupan seluruh komponen ekosistem dan 3) Prinsip Inovasi Baru (The New Innovations) yakni menghasilkan inovasi baru ekonomi praktis dengan tingkat, efisiensi yang tinggi dan bersih lingkungan.Model ekonomi biru sangat tepat dijadi­kan sebagai landasan pembangunan maritim Indonesia, dengan beberapa alasan, yaitu : 1) potensi sumberdaya maritim sangat besar, 2) sumberdaya maritim belum diman­faat­kan secara efisien, 3) pemanfaatan sumberdaya maritim secara optimal memiliki efek multiplier bisnis yang beragam, dan 4) ekosistem laut memiliki daya dukung terbatas dan pada banyak lokasi sudah mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia. Oleh sebab itu, pembangunan sektor maritim berbasis ekono­mi biru akan memberikan peluang untuk me­ngembang­kan investasi dan bisnis yang lebih menguntungkan secara ekonomi melalui pengelolaan sumberdaya kelautan yang lebih efisien dan ramah lingkungan, mengem­bang­kan sistem produksi yang bersih, meng­ha­sil­kan produk yang berkua­litas dan nilai tambah ekonomi lebih besar, meningkatkan penyera­pan tenaga kerja dan memberikan kesempatan untuk menghasil­kan benefit kepada setiap pemangku kepenti­ngan secara lebih adil.Model ekonomi biru sangat relevan dalam mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim dunia dengan menerapkan model pengembangan bisnis kelautan yang mengsi­nergikan antara pertumbuhan, pembangunan dan lingkungan, sehingga prinsip ekonomi biru relatif sesuai untuk Indonesia dalam menghadapi tantangan perubahan ekosistem laut yang kian rentan terhadap eksternalitas negatif pembangunan di daratan, perubahan iklim global, dan tekanan terhadap sumber­daya kelautan akibat akses terbuka terhadap segala pemanfataan oleh masyarakatPrinsip ekonomi biru dapat dilaksanakan melalui beberapa pendekatan, antara lain : mensinergikan pengelolaan ekosistem pesisir dan laut dengan ketahanan pangan, strategi pembangunan ekonomi dan sosial, serta mendorong transisi ekonomi, pasar, industri dan masyarakat menuju pola berkelanjutan terhadap penggunaan sumberdaya kelautan dan perikanan dari waktu ke waktu. Bebe­rapa manfaat yang dapat kita peroleh dari pengelolaan sektor kelautan dan perikanan berbasis ekonomi biru yakni : 1) Mening­kat­nya nilai tambah (added value) produk kelautan dan perikanan yang diikuti oleh peningkatan daya saing, 2) Terciptanya modernisasi sistem hulu dan hilir, 3) Me­nguatnya para pelaku usaha industri kelau­tan dan perikanan, 4) Terfokusnya industri pada komoditas unggulan sesuai dengan permintaan pasar, 5) Terjaminnya keberlan­jutan produksi, 6) Mendorong transformasi sosial melalui perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat sesuai karakte­ristik masyarakat industri modern, dan 7) Aksele­rasi produksi perikanan nasional yang bero­rientasi pada trend pasar global dan lokal.
Kebijakan Strategis
Dalam mengimplementasikan pembangu­nan maritim berbasis ekonomi biru, maka setidaknya dibutuhkan 4 (empat) kebijakan dasar strategis dari pemerintah untuk percepatan pembangunan maritim, yaitu : 1) Kebijakan Pembangkitan Investasi Maritim (Maritime Rising Investment Policy), 2) Kebijakan Peningkatan SDM Kemaritiman (Maritime Human Resources Development Policy), 3) Kebijakan Riset dan Teknologi Kemaritiman (Maritime Research dan Technology Policy), dan 4) Kebijakan Konservasi Sumberdaya Maritim (Maritime Resources Conservation Policy).
Kebijakan yang pertama mensyaratkan pemerintah harus dapat memberikan kemu­dahan atau insentif bagi investor, sehingga usaha kelautan dan perikanan dapat berkem­bang. Dapat dipastikan, peningkatan inves­tasi akan banyak menyerap tenaga kerja dan mempunyai efek multiplier ke sub sektor lainnya. Insentif bagi investor dapat diberi­kan dalam bentuk : a) debirokratisasi admi­nistrasi proses penanaman modal asing dan penanaman modal dalam negeri bidang kemaritiman, b) penetapan skim tarif impor dan pajak ekspor produk kelautan dan perikanan yang rendah, c) penyiapan sarana dan prasarana yang dapat mendukung kegiatan sektor kelautan dan perikanan seperti modernisasi pelabuhan perikanan dan cold storage, dan d) penguatan lembaga keuangan yang mendukung kegiatan sektor kelautan dan perikanan.Kebijakan kedua tentang peningkatan kualitas sumberdaya manusia di bidang kelautan dapat dilakukan melalui pendidi­kan, pelatihan, sosialisasi dan penyadaran masyarakat. Kebijakan ini mensyaratkan peningkatan jumlah lembaga pendidikan tingkat menengah dan pendidikan tinggi bidang kelautan dan perikanan ditujukan untuk penguasaan ilmu dan teknologi kemaritiman. Demikian halnya sosialisasi dan penyadaran masyarakat tentang penting­nya peranan laut bagi masyarakat pesisir atau nelayan harus dilakukan secara terencana dan kontinyu oleh pemerintah sehingga me­mung­kinkan revolusi mental dari aspek kognitif ke aspek psikomotorik. Dengan demikian diharapkan terjadinya perubahan budaya eksploitatif menjadi budaya konser­vatif, perubahan mental buruh menjadi pelaku ekonomi, dan perubahan pandangan bahwa sumberdaya kelautan dapat menjadi mata pencaharian utama, bukan sambilan.Kebijakan ketiga adalah peningkatan riset dan teknologi kemaritiman untuk mewu­judkan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Kita mengakui bahwa pembangunan sektor kemaritiman relatif tertinggal diban­ding sektor lainnya di tanah air, karena kebi­jakan pembangunan selama ini lebih bero­rien­tasi ke daratan. Oleh sebab itu, misi poros maritim dunia tersebut menjadi momentum yang tepat untuk mengembalikan kejayaan maritim, melalui peningkatan kegiatan riset kelautan dan perikanan baik riset dasar, riset terapan maupun riset pengembangan. Hasil riset dan inovasi akan membantu pemerintah dalam memberikan alternatif penyelesaian yang riil untuk mengoptimalkan peman­faatan sumberdaya kelautan dan perikanan dan mengolah hasil perikanan dari satu produk menjadi bahan baku bagi produk lain sehingga mampu menghasilkan lebih banyak produk turunan bernilai ekonomis tinggi.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diharapkan mampu menerapkan hasil pengembangan iptek kelautan dan perikanan menjadi teknologi siap pakai untuk difungsi­kan dalam sistem produksi ekonomi biru. Oleh sebab itu perlu dilakukan inventarisasi hasil penelitian dan teknologi serta identifi­kasi pasar yang potensial untuk memasarkan produk-produk turunan tersebut. Dalam hal ini, KKP secara aktif harus memperkuat kemitraan yang sinergis antara perguruan tinggi, pemerintah, dan swasta yang bertu­juan mengembangkan paradigma ekonomi biru. Sampai saat ini sudah 12 negara di dunia yang telah berhasil menerapkan ekonomi biru dalam pengelolaan sumberdaya kelautan dan perikanan, dan secara nyata telah mensejahterakan masyarakat pesisir dan nelayan di negara tersebut.Kebijakan keempat adalah perlindungan atau konservasi sumberdaya kemaritiman, baik hayati maupun nir hayati dengan tujuan untuk menjamin kontinuitas produksi dan kelestarian sumberdaya kelautan. Kebijakan konservasi sumberdaya ini pada dasarnya sudah dilaksanakan di Indonesia melalui implementasi Keppres No. 80 Tahun 1983 tentang Pelarangan Pukat Harimau (Trawl), UU No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam dan Ekosistemnya, UU No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, PP No. 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumberdaya Ikan, UU No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan Permen KKP No. 12 Tahun 2012 tentang Usaha Perikanan Tang­kap di Laut Lepas. Demikian juga Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pujias­tuti baru-baru ini tentang pelara­ngan operasi Pukat Tarik (Cantrang), dan pembatasan penang­kapan lobster adalah wujud nyata untuk perlindungan sumberdaya kelautan kita. Yang menjadi masalah dalam implementasi seluruh peraturan perundang-undangan ini adalah lemahnya pengawasan dan penegakan hukum, sehingga sumber­daya kelautan kita sudah banyak yang mengalami deplesi, kerusakan ekosistem pesisir dan laut, dan pencemaran perairan laut.
Paradigma ekonomi biru merupakan bagian dari kerangka kebijakan industria­lisasi kelautan dan perikanan yang mene­kankan pentingnya modernisasi, peningkatan nilai tambah, dan daya saing terlebih-lebih dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang sudah dekat. Ekonomi biru secara langsung mendukung keber­hasilan dari program percepatan industria­lisasi kelautan dan perikanan, karena dapat memanfaatkan hasil sampingan (side product) produk perikanan menjadi sebuah pendapatan baru yang bernilai tambah tinggi. Misalnya, selama ini kita mengekspor udang yang produk utamanya dalam bentuk daging, sedangkan kepala dan kulitnya menjadi limbah hasil perikanan yang tidak bernilai ekonomis. Dengan penerapan ekonomi biru, sisa hasil perikanan tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk turunan bernilai tambah tinggi seperti Chitosan yang dapat digunakan sebagai pengawet ikan yang aman bagi konsumen, dan sekaligus upaya pengen­dalian pencemaran lingkungan. Oleh sebab itu, paradigma ekonomi biru sangat relevan untuk pembangunan kemaritiman kita, baik kegiatan budidaya laut, perikanan tangkap, pengolahan produk perikanan dan turunan­nya maupun pemanfaatan jasa lingkungan laut.


Baca Selengkapnya ....

Pelarangan Pukat hela dan pukat tarik di Pantai Utara Jawa

Posted by Benny Osta Nababan Jumat, 14 Februari 2020 0 komentar
Pelarangan pukat hela dan pukat tarik di Indonesia oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan memberikan dampak langsung kepada nelayan dan memberikan dampak pengganda kepada masyarakat dan perekonomian lokal di Pantai Utara Jawa.  Secara jelas Buku ini diterbitkan oleh Conservation Strategic Fund yang dapat didownload pada link berikut ini :

Pelarangan Pukat hela dan pukat tarik di Pantai Utara Jawa

atau

https://www.conservation-strategy.org/sites/default/files/field-file/MFP_Trawl_Ban_Java_Bahasa_Optimized.pdf

Baca Selengkapnya ....

Integrated Marine and Fisheries Center and priority for product intensification in East Sumba, Indonesia

Posted by Benny Osta Nababan 1 komentar
Jurnal internasional mengenai mata pencaharian alternatif yang dapat dikembangkan di Sumba Timur, NTT dapat didownload pada link berikut ini

Integrated Marine and Fisheries Center and priority for product intensification in East Sumba, Indonesia...



Baca Selengkapnya ....

Proseding Seminar Nasional Sosial Ekonomi Tahun 2015 (Gajah Mada)

Posted by Benny Osta Nababan Senin, 27 Agustus 2018 0 komentar
Silahkan download pada link berikut : Proseding

Baca Selengkapnya ....

Indiference Curve and Budget Line

Posted by Benny Osta Nababan 1 komentar
Indifference Curve adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi 2 macam barang yang dapat memberikan tingkat kepuasan yang sama.  

Budget Line adalah garis yang menunjukkan berbagai kombinasi 2 macam barang yang dapat dibeli konsumen dengan pendapatan tertentu pada harga tertentu



Selengkapnya slide dapat didownload pada link : Indeference Curve and Budget Line



Baca Selengkapnya ....

Kuliah Ekonomi Sumberdaya 2017

Posted by Benny Osta Nababan Jumat, 22 Desember 2017 0 komentar

Apakah ketersediaan sumber daya alam saat ini & dimasa mendatang mampu untuk mendukung kebutuhan generasi  saat ini & generasi mendatang?
Untuk itu diperlukan pengetahuan ekonomi sumberdaya alam supaya dapat mengetahui titik kritis sumberdaya dan memanfaatkan sumberdaya pada optimal pemanfaatan supaya tidak terjadi kelangkaan....

Materi ekonomi sumberdaya tersebut dapat didownload pada link dibawah ini :


Baca Selengkapnya ....

Teknik-Teknik untuk Reliabilitas

Posted by Benny Osta Nababan Sabtu, 21 Oktober 2017 0 komentar
Seringkali pengukuran dengan Reliabilitas Cronbach Alpha tidak menghasilkan data yang Reliabel karena nilanya < Cronbach Alpha.  Padahal data tersebut merupakan data asli laporan keuangan.  Pertanyaannya apakah jika data tersebut tidak reliabel maka tidak dapat diolah secara statistik ? Apakah kita harus membuat data baru atau manipulasi data ? Lalu jika tidak reliabel dengan Cronbach Alpha, apakah penelitian kita harus dibatalkan dan menganggap perusahaan tidak memberikan data yang tidak betul.  Pada akhirnya perusahaan akan melarang kita untuk penelitian karena kita dianggap telah melakukan fitnah terhadap perusahaan.  Belum lagi jika data yang kita akan ukur bukanlah data kuesioner tapi data dari perusahaan atau BPS, apa kita harus menghitung keraguan terhadap data yang telah diukur oleh lembaga resmi tersebut.  Oleh karena itu, ternyata banyak sekali yang bisa digunakan untuk mengukur validitas dan reliabilitas data-data tersebut.

Sebenarnya banyak teknik untuk mengukur Reliabilitas data, yaitu :

1. Teknik Cronbach Alpha
Teknik Alpha Cronbach penggunaanya bebas seperti halnya pada teknik Hoyd. Teknik perhitungan Alpha Cronbach hampir sama dengan teknik Hoyd yaitu menggunakan sidik ragam.  Cronbach alpha adalah  Koefisien alpha dikembangkan oleh Cronbach (1951) sebagai ukuran umum dari konsistensi internal skala multi-item. Sedangkan formula KR (Kuder-Richardson) digunakan untuk item dikotomi. Suharsimi Arikunto, (2005), menambahkan beberapa formula seperti Formula Rulon, Flanagan, dan Hoyt untuk menguji reliabilitas test pada item dengan skala dikotomi yaitu 1 dan 0).

Angka cronbach alpha pada kisaran 0.70 adalah dapat diterima, di atas 0.80 baik (Sekaran, 2006). Sejalan dengan pendapat beberapa ahli seperti Nunnally (1978, p. 245-246) yaitu : untuk Preliminary research direkomendasikan sebesar 0.70, untuk basic research 0.80 dan applied research sebesar 0.90 -0.95. Kaplan dan Saccuzo, (1982:106) merekomendasikan nilai cronbach alpha sebesar 0.7 – 0.8 untuk basic research, dan 0.95 untuk applied research. Namun ada juga yang menyebutkan > 0.6 dapat diterima, karena ingatan seseorang akan data tentu berbeda, apalagi mengalami kejadian berbeda pada waktu yang berbeda.  Sebagai contoh, jika Ari belanja di minimarket Aprilmart  dan dilayani oleh Amat pada hari senin merasa puas. Namun besoknya pada hari selasa dilayani oleh si Andi yang selalu cuek dengan konsumen yang datang maka bisa saja jawabannya Ari menjadi tidak puas akan pelayanan di minimarket Aprilmart sehingga jawaban menjadi tidak konsisten.  Hal inilah yang membuat besaran Cronbach Alpha diturunkan karena ternyata juga terjadi ketidakkonsistenan dari petugas yang berjaga di Aprilmart saat itu.

2. Teknik ukur ulang (Split Half Reliability)
Teknik ukur ulang artinya pengukuran dilakukan sebanyak dua kali. Hasil  pengukuran pertama dikorelasikan dengan hasil pengukuran kedua. Korelasi yang digunakan adalah korelasi Pearson, bila korelasi yang diperoleh antara hasil  pengukuran pertama dan kedua signifikan berarti instrumen tersebut handal. 

3. Teknik Genap Gasal
Pada teknik genap gasal nomor pertanyaan dikelompokkan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok genap dan kelompok gasal. Selanjutnya kelompok genap dikorelasikan dengan kelompok gasal dengan menggunakan korelasi Pearson. Selanjutnya r yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus korelasi genap gasal (r gg).

r gg = 2(r) / (1+r)

r gg = korelasi genap gasal

r = korelasi Pearson

Uji signifikansi r gg menggunakan uji t atau r tabel.


4. Teknik belah tengah
Teknik belah tengah, caranya nomor pertanyaan dikelompokkan menjadi kelompok I dan II. Jumlah kelompok I diberi simbol X dan kelompok II diberi simbol Y. Jika nomor pertanyaan ganjil, nomor pertanyaaan yang di tengah bisa dimasukkan ke dalam kelompok I atau kelompok II. Selanjutnya kelompok I dikorelasikan dengan kelompok II dengan menggunakan korelasi Pearson (r). Koefisien korelasi yang diperoleh ini selanjutnya dimasukkan ke dalam korelasi genap tengah r gg. Uji signifikansi r gg sama dengan pada teknik genap gasal.

Split Half Reliability adalah teknik pengujian reliabilitas instrument dengan cara membaginya menjadi dua bagian. Indeks reliabilitas dicerminkan dari korelasi antara dua bagian instrument.  Groth dan Marnat (2008) menyebutkan bahwa konsistensi internal melalui reliabilitas belah dua dan koefisien alpha merupakan teknik-teknik terbaik untuk menentukan reliabilitas sebuah cirri-sifat dengan derajat fluktuasi yang tinggi. Karena tes diberikan hanya satu kali, maka soal-soalnya dikorelasikan satu sama lain, dan tidak ada kemungkinan pengaruh waktu untuk mengintervensi seperti yang terjadi pada metode test-retest (t-hitung > t-tabel atau r-hitung > r-tabel).


5. Teknik belah acak
Perhitungan dan cara menyimpulkan hasil teknik belah acak sama dengan genap gasal dan belah tengah, bedanya pengelompokan nomor pertanyaan yang sahih dilakukan secara random.

6. Teknik Hoyd
Teknik Hoyd tidak menuntut persyaratan seperti Teknik Kuder Richardson. Teknik Hoyd perhitungannya dengan menggunakan sidik ragam.

Teknik dan Paper mengenai hal tersebut disajikan pada link berikut :

b. Paper

Daftar Pustaka :
Gary Growth – Marnat. 2009. Handbook of Psychological Assessment. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Sekaran, U. 2006. Metode Riset Bisnis. Jakarta : Salemba Empat


Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta

Reliability di http://writing.colostate.edu/guides/research/relval/pop2a.cfm


Baca Selengkapnya ....

Teknik Pengambilan Keputusan

Posted by Benny Osta Nababan Senin, 08 Mei 2017 0 komentar
Teknik Pengambilan Keputusan terdiri dari beberapa metode atau teknik untuk mempermudah manusia mendapatkan keputusan terbaik dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.  Oleh karena itu terdapat beberapa metode atau Teknik Pengambilan Keputusan (TPK) yaitu :
1. Pendahuluan dan Pengantar TPK
2. Konsep dasar pengambilan Keputusan
3. Metode Bayesian
4. Diagram Keputusan
5. Simulasi Monte Carlo
6. Game Teori
7. Pengambilan Keputusan Berbasis Indeks Kinerja
8. Metode MADM : SAW dan WP
9. Metode MADM : TOPSIS dan Profile Matching
10. Metode AHP

Baca Selengkapnya ....

Metode Penelitian April 2017

Posted by Benny Osta Nababan Minggu, 07 Mei 2017 0 komentar
Materi Kuliah Metode Penelitian April 2017 :

Format Proposal Skripsi

Baca Selengkapnya ....

Riset Operasi April 2017

Posted by Benny Osta Nababan 0 komentar

Baca Selengkapnya ....

Riset Bisnis 2017

Posted by Benny Osta Nababan Senin, 13 Februari 2017 1 komentar
Riset Bisnis terdiri dari beberapa kasus dan penggunaan metode untuk melakukan riset... Metode yang dapat digunakan dalam Riset Bisnis antara lain :
1. Analisis Efisiensi
2. Analisis Importance Performance Analysis
3. Analisis Diskriminan
4. Analisis Regresi (Kasus pemasaran)

Baca Selengkapnya ....

Statistik Deskriptif 2017

Posted by Benny Osta Nababan Sabtu, 14 Januari 2017 0 komentar
Statistik adalah kumpulan data, bilangan/non bilangan yang disusun dalam tabel dan atau diagram yang melukiskan atau menggambarkan suatu persoalan.  Sedangkan Statistika adalah “Ilmu yang mempelajari bagaimana merencanakan, mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasikan dan mempresentasikan data.”  Pada kedua definisi di atas jelas perbedaannya antara statistik dan statistika, walaupun hanya berbeda kata "a" pada akhir kata statistik.

Mata kuliah statistik dibagi menjadi 2 yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensia.  Keduanya berbeda namun saling melengkapi.  Statistik inferensia dapat dilakukan setelah proses statistik deskriptif dilakukan.  Statistik deskriptif hanya terbatas menampilkan data dan menyajikan tentang posisi data tanpa dapat menyimpulkan dari data.  Oleh karena itu, diperlukan pemahaman awal terhadap data melalui statistik deskriptif. 

Bahan perkuliahan statistik deskriptif disajikan di bawah ini dan anda dapat mendownloadnya dengan meng-klik link pdf file pada setiap judul setiap materi pertemuan/perkuliahan.


Sedangkan materi slide powerpoint hanya dapat didownload oleh dosen yang mengajar mata kuliah statistik deskriptif, pada link ppt setiap judul setiap materi pertemuan/perkuliahan di bawah ini :

Baca Selengkapnya ....

Statistika Inferensia 2017

Posted by Benny Osta Nababan Rabu, 28 Desember 2016 0 komentar
Anda diharapkan dapat memahami distribusi poisson.  Supaya tidak membingungkan, anda dapat saling diskusi namun tidak hanya mencontoh dari teman diskusi anda.  Hal ini menjadi penting, sebagai salah satu latihan untuk mengasah ketrampilan anda dalam ujian...

Tugas Statistika Inferensia dapat di download pada link berikut :
1. Distribusi Poisson

Baca Selengkapnya ....

ANALISIS PERSEPSI DAN PILIHAN KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SUKU CADANG SEPEDA MOTOR MERK ASTRA HONDA MOTOR (AHM) GENUINE PART DAN ASPIRA DI CILEBUT

Posted by Benny Osta Nababan Minggu, 04 Desember 2016 0 komentar
ANALISIS PERSEPSI DAN PILIHAN KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN SUKU CADANG SEPEDA MOTOR MERK ASTRA HONDA MOTOR (AHM) GENUINE PART DAN ASPIRA
DI CILEBUT

Oleh :

Benny Osta Nababan[1] dan Nina Aminah[2]

ABSTRAK

Seiring dengan permintaan sepeda motor yang terus meningkat maka meningkat pula permintaan suku cadang sepeda motor.  Persepsi masyarakat Indonesia mengenai suku cadang sepeda motor cukup menarik perhatian. Masyarakat Indonesia beranggapan bahwa suku cadang yang berasal dari Jepang memiliki kualitas paling baik dibandingkan dengan suku cadang buatan  Indonesia.  Sebagaimana diketahui, suku cadang sepeda motor merk ASPIRA merupakan produk suku cadang after market produksi pabrik Astra Otopart yang merupakan vendor atau pabrik untuk Astra Honda Motor  (AHM) Part. Perbedaan dari produk ORI dan OEM adalah kemasan dan harga jual namun kualitas produk, material dan standarisasinya sama dengan merk AHM Genuine Part.  Tujuan penelitian ini yaitu: (1) untuk mengetahui persepsi konsumen terhadap suku cadang sepeda motor merk AHM dan ASPIRA pada variabel produk, kualitas produk dan harga; (2) untuk mengetahui perbedaan persepsi konsumen terhadap suku cadang sepeda motor merk AHM dan ASPIRA pada variabel produk, kualitas produk dan harga; (3) untuk mengetahui faktor paling penting bagi konsumen dalam menentukan keputusan pembelian suku cadang sepeda motor merk AHM atau ASPIRA.  Sebelum melakukan analisis data perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas data agar data yang digunakan merupakan data yang sahih dan konsisten.  Metode analisis data yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut yaitu : (1) Uji perbedaan rata-rata, (2) Independent samples test (Levene’s test dan t-test samples).  Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu : (1) variabel yang digunakan dalam penelitian ini secara keseluruhan valid dan reliabel, (2) konsumen sepeda motor Honda secara rata-rata lebih memilih produk AHM, (3) ada perbedaan persepsi konsumen secara keseluruhan yang artinya konsumen akan membandingkan 5 variabel persepsi tersebut sebelum memilih suku cadang AHM atau ASPIRA, (4) faktor dominan untuk menentukan keputusan pembelian suku cadang AHM atau ASPIRA adalah kualitas produk (rekomendasi) dan harga (promosi dan discount). 

Kata kunci : Uji Beda, Persepsi, Suku cadang, AHM, ASPIRA, Cilebut



[1] Dosen  Departemen ESL-FEM-IPB dan peneliti IPB
[2] Mahasiswa STIE Dewantara

Untuk paper lengkap dapat didownload pada link berikut :
Mohon dapat lengkapi daftar pustaka anda jika merujuk pada tulisan pada paper ini.... Terima kasih...


Baca Selengkapnya ....

Bagaimana Menulis Paper untuk Publikasi Internasional, Kuncinya “ACCEPTANCE”

Posted by Benny Osta Nababan 0 komentar
Jakarta, Berita Geospasial BIG - "Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain yang berada entah dimana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang." Dikutip dari Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara oleh Seno Gumira Ajidarma. 
Menulis merupakan hasil tuangan pemikiran melalui kata-kata. Sebagai bagian dari cara berkomunikasi, menulis seringkali dianggap lebih rumit daripada berdialog atau berbicara. Saat ini diperlukan upaya membangun budaya menulis melaluipublikasi karya ilmiah, yaitu dengan budaya membaca, budaya menulis, budaya dialog, budaya berpikir analitis, budaya jujur, budaya berbagi, dan budaya menghargai orang lain. Keadaan saat ini menunjukkan bahwa dari 60-70% penduduk Indonesia yang berusia produktif, kurang dari 32% yang mengikuti jenjang pendidikan tinggi. Gross Domestic Expenditureon R&D Indonesia pada 2013 adalah 0,09%, dan angka publikasi dari Indonesia masih mencapai 21.000 atau peringkat 61 secara global. Demikian disampaikan oleh Dr. Muhamad Dimyati, Deputi Bidang Sumber Daya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Kementerian Riset Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) dalam sambutannya.

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas artikel ilmiah peneliti Indonesia yang diterbitkan di jurnal internasional ternama, Kemenristek Dikti bekerjasama dengan Elsevier, menghadirkan narasumber Dr. Valerie M. Teng-Broug dari Elsevier, Senior Publisher dari Elsevier dimana lebih dari 17 tahun telah menjabat berbagai posisi penerbitan di bidang ekonomi, ekonometri, keuangan dan ilmu matematika sekarang.  Kerja sama tersebut dalam penyelenggaraan Workshop "How To Write A Great Paper and Get It Published in A Research Journal" pada 5 Mei 2015 lalu di Auditorium BPPT. Elsevier merupakan "world-leading provider" dan penerbit jurnal internasional ternama di bidang ilmu pengetahuan, kesehatan, dan teknologi yang saat ini sudah melibatkan 11 juta peneliti, lebih dari 5.000 institusi, dan 180 negara.

Workshop yang dipimpin oleh Benjamin Lakitan ini, mempunyai animo yang tinggi, terlihat dari jumlah peserta yang mencapai lebih dari 450 orang, baik dari peneliti junior maupun peneliti senior.  Workshop dibagi ke dalam 2 sesi, dimana sesi pertama pada pagi hari adalah materi How to write a great paper and get it published in a research journal, dan dilanjutkan dengan materi Penggunaan index scopus sebagai alat riset dan publikasi ilmiah secara internasional. Sedangkan sesi kedua pada siang hari, adalah kegiatan bimbingan teknis penulisan ilmiah per kelompok untuk mempelajari tulisan yang dapat diterbitkan oleh Elsevier. BIG merupakan salah satu LPNK dibawah koordinasi Kemenristek Dikti mengirimkan beberapa peneliti baik peneliti utama hingga calon peneliti, dan fungsional surveyor pemetaan dari berbagai unit kerja di lingkungan BIG.

Beberapa materi penting yang disampaikan Valerie adalah merupakan hal penting dalam menulis salah satunya adalah menggunakan bahasa dengan tepat. Dalam workshop ini ditekankan untuk menggunakan bahasa Inggris. Kunci penulisan ilmiah yang sukses adalah waspada untuk kesalahan umum seperti konstruksi kalimat, tata bahasa yang tidak akurat, dan tidak menggunakan bahasa Inggris dengan tepat dan keseluruhan - seringkali pada gambar atau tabel masih menggunakan bahasa asal penulis-. Publikasi ilmiah adalah salah satu langkah yang diperlukan untuk tertanam dalam proses penelitian ilmiah. Hal ini juga diperlukan untuk kelulusan pendidikan dan pengembangan karir. Apa yang harus mempublikasikan? Hal-hal yang merupakan hasil atau metode baru dan orisinil, ulasan atau ringkasan dari subjek tertentu, atau merupakan naskah yang memajukan pengetahuan dan pemahaman dalam bidang ilmiah tertentu.

Valerie memberikan tips sebelum melakukan publikasi tulisan yaitu memilih jurnal yang tepat dengan memilih hanya satu jurnal, sesuai tujuan yang dicapai, ruang lingkup, jenis dari artikel yang diterima, sasaran pembaca, dan topik hangat saat ini; pastikan abstrak tulisan kita jelas mengenai apa dan mengapa, jangan meminta orang lain untuk memahami kita, dan bagilah pengetahuan kita dengan media sosial; serta gunakanlah nama secara unik dan tidak berubah-ubah sehingga tidak membuat orang lain bingung untuk menggunakan tulisan kita sebagai referensi, ini untuk memudahkan dalam menemukan tulisan kita dengan indeks Scopus.

Selain itu "evaluasi apakah kita siap untuk mempublikasikan" ujar Valerie. Hal yang juga tidak kalah penting jika kita siap untuk mempublikasikan, naskah yang kita tulis adalah naskah yang kuat dengan sebuah kekhasan layaknya novel, berupa hal yang berguna, dan memiliki pesan menarik, disajikan dan dibangun secara logis, pengulas dan editor dapat memahami signifikansi hal ilmiah dengan mudah. Evaluasi pekerjaan kita, apakah artikel cukup lengkap? ataukah hasil tulisan tersebut yang mendorong keinginan kita untuk ditampilkan sesegera mungkin? Mintalah saran atasan dan rekan-rekan pada naskah kita, terkadang orang luar melihat hal-hal yang lebih jelas daripada penulis sendiri.

Dalam penulisan kalimat dengan bahasa ilmiah, tulislah kalimat secara langsung dan singkat, satu ide atau sepotong informasi per kalimat sudah cukup, dan hindari beberapa pernyataan dalam satu kalimat. Judul yang baik harus mengandung kata-kata yang mungkin paling sedikit dan yang cocok untuk menggambarkan isi makalah. Sifat judul harus efektif, mengidentifikasi masalah utama dari paper dimulai dengan subjek paper. Apakah sudah cukup akurat, jelas, spesifik, dan lengkap? Apakah sudah sesingkat mungkin? Valerie menyarankan untuk memilih judul yang catchy karena lebih sering dikutip, tidak mengandung singkatan yang jarang digunakan, dan menarik minat pembaca. Ingatlah pembaca berpotensi mengutip artikel yang kita tulis.

Selanjutnya dalam penulisan abstrak yang ditujukan untuk memberitahu pembaca apa yang kita lakukan dan temuan penting yang dihasilkan dari tulisan kita. Satu paragraf (antara 50-300 kata) sering juga ditambah dengan poin-poin highlight. Sebuah abstrak akan sangat berpengaruh jika pekerjaan kita menyangkut kegunaan masa depan. Kata kunci pada abstrak juga memiliki peran penting. Dalam dunia elektronik, kata kunci menentukan apakah artikel kita mudah ditemukan atau tidak. Hindari membuat kata kunci yang terlalu umum, terlalu sempit. Pendekatan yang efektif yang dapat dilakukan antara lain melihat kata kunci dari artikel yang relevan dengan naskah kita. Bermain dengan kata kunci tersebut dan melihat kegunaannya kembali.

Penulisan bagian pendahuluanyang tepat adalah paragraf yang mampu meyakinkan pembaca bahwa kita tahu mengapa pekerjaan yang kita lakukan relevan dan sesuai juga bagi mereka. Cobalah menjawab serangkaian pertanyaan: Apa masalahnya? Apakah terdapat solusi yang pernah ada? Mana yang terbaik? Apa keterbatasan utamanya? Apa yang ingin Kita capai? Selanjutnya lanjutkan dengan penulisan Metode Percobaan. Sertakan semua rincian penting agar pembaca bisa mengulangi pekerjaan. Hindari menambahkan komentar dan diskusi. Menulislah dalam bentuk lampau. Pertimbangkan penggunaan bahan tambahan (Dokumen, spreadsheet, audio, video). Percobaan harus mengikuti etika yang berlaku, sertakan persetujuan Komite Etika bila tulisan kita melibatkan percobaan pada manusia atau hewan. Editor dapat membuat keputusan sendiri apakah percobaan telah dilakukan dalam cara etis dapat diterima karena terkadang persetujuan lokal berada di bawah standar yang diterima secara internasional.

Berikutnya dalam penulisan hasil dan pembahasan.  Bagian ini menyangkut pada apa yang telah kita temukan, hal-hal yang harus disertakan antara lain temuan utama. Menampilkan temuan highlight yang berbeda dari temuan yang pernah ada dalam publikasi sebelumnya. Terakhir adalah bagian kesimpulan yang menyangkut keadaan saat ini secara global dengan kesimpulan spesifik. Mampu menunjukkan penggunaan dan ekstensi yang sesuai, hindari penilaian tentang dampak. Melalui kesimpulan penulis memberikan saran untuk percobaan mendatang dan menunjukkan apakah yang mereka sedang lakukan sesuai. Jangan meringkas paper untuk membuat kesimpulan, abstrak adalah bagian untuk itu.

Bagian penting yang tak kalah penting adalah bagian daftar pustaka atau referensi. Tuliskan referensi secara benar. "Patuhilah panduan untuk penulis jurnal, ini adalah tanggung jawab penulis untuk memformat tulisan sesuai referensi dengan benar. Referensi harus berhubungan dengan paper dan mendukung artikel." Ujar Valerie menutup sesi presentasi yang dilanjutkan sesi tanya jawab dengan peserta workshop.

Sebelum waktu istirahat siang, Brand Manager Elsevier Indonesia memberikan saran mengenai penerimaan tulisan oleh Publisher. Hal ini banyak membuat penulis ragu mengirimkan tulisannya. Keputusan pertama langsung "Diterima", hal ini sangat jarang terjadi, namun hal itu bisa terjadi. Selamat! Sekarang kita hanya menunggu bukti halaman dan artikel kita akan tampil online dan dicetak. Keputusan kedua "Ditolak", hal ini memiliki probabilitas 40-90%. Jangan putus asa. Hal ini terjadi pada semua orang. Cobalah untuk mengerti mengapa. Pertimbangkan saran reviewer. Jadilah kritis. Jika jurnal tersebut dikirimkan ke Publisher lain, mulai seolah-olah itu adalah naskah baru. Baca Panduan untuk penulis dari jurnal baru, lagi dan lagi.

Kuncinya, apa yang membuat paper kita diterima adalah ACCEPTANCE: Attention to details (perhatikan pada detail), Check and double check your work (periksa dan periksa kembali pekerjaan kita), Consider the reviewers' comments (pertimbangkan pendapat reviewers), English must be as good as possible (gunakan Bahasa Inggris sebaik mungkin)Presentation is important (penyajian adalah hal yang penting), Take your time with revision(ambil waktu untuk merevisi), Acknowledge those who have helped you (ucapkan terima kasih pada pihak yang membantu kita), New, original and previously unpublished (Baru, asli, dan belum pernah dipublikasikan sebelumnya), Critically evaluate your own manuscript (evaluasi secara kritis tulisan kita), Ethical rules must be obeyed (patuhi aturan etik).  (NAD-FLO/TR)

Baca Selengkapnya ....

Share with

Twitter Google Plus Facebook Digg Stumbleupon Favorites More
Tutorial SEO dan Blog | Copyright of Resources Economic, Policy, Statistic and Socio Economics.

Resources Economics